Jumat, 22 Februari 2013

(1) Dahlan Iskan Tempo Doeloe di Samarinda: Anjangsana Penuh Makna


Demonstrasi Malari dan Berkenalan dengan Dunia Jurnalistik

 



Awam diketahui bahwa bekas bos besar Jawa Pos Group yang kini Menteri BUMN, Dahlan Iskan, juga seorang jurnalis. Sebuah profesi yang mulai ditekuninya ketika kuliah di Samarinda. Bagaimana cerita lampau si tokoh yang bahkan kuliahnya tak lulus itu di Kota Tepian? Kaltim Post menguliknya lewat penuturan sumber yang dahulu dekat dengan Sang Menteri.



PEMUDA yang agak ceking itu mengenakan paduan celana kain dan kaus berkerah yang menutupi sebagian kulit sawo matangnya. Tatapan mata tajam tersorot dari wajah bulatnya. Sedikit tirus, tonjolan tulang di kedua pipinya kokoh di bawah kening yang tertutup poni.

Telapak kakinya yang mengenakan sandal pelan-pelan melangkah ke seorang yang lebih tua. Sayid Alwy AS, demikian orang yang sedang didekati pemuda itu. Badan Alwy besar dan tegap. Kumisnya tebal dan kulitnya agak gelap.

Di sebuah kantor surat kabar di Samarinda pada Februari 1974, pria yang didekati itu sadar. Sejurus kemudian dia menyapa si pemuda, “Eh, Lan, apa kabar?”

Pemuda bernama Dahlan Iskan itu tak segera menjawab. Tetapi dari rautnya, ada sesuatu yang hendak disampaikan. Setelah beberapa lama dia membuka suara. “Kakak, saya dikejar-kejar militer,” katanya, berkeluh kesah. Mendengar itu, Alwy kaget. Selaksa tanya bergelimang di benak jurnalis itu.

Alwy heran, bagaimana bisa, Dahlan, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Samarinda itu sampai berurusan dengan militer. Bagaimana bisa, pemuda di hadapannya yang sudah dia anggap adik itu tiba-tiba menjadi dicari-cari.

Tetapi pikirannya segera melayang ke masa lampau. Alwy tahu, Dahlan memang ekstrem. Kira-kira, seekstrem Nurcholis Madjid, tentang sejumlah pandangannya tentang agama. Itu dirasakan Alwy, ketika mereka pertama kali berkenalan enam bulan sebelum anjangsana ini di sebuah ruangan di samping Gedung Nasional. Sekarang, lokasi gedung itu di Jalan Jenderal Sudirman, Samarinda. Waktu itu, Alwy dan Dahlan sama-sama mengikuti sebuah diskusi agama.

Usai perkenalan itu, Alwy mulai ingat, jika Dahlan aktif di beberapa organisasi seperti Pelajar Islam Indonesia. Bukan organisasi terlarang pada masa itu. Lantas, dari mana juntrungannya sampai dikejar-kejar militer? “Kok, bisa?” Akhirnya, kalimat tanya yang dari tadi tertahan keluar juga. “Malari,” jawab Dahlan singkat. Tak lama kemudian, pemuda itu bercerita panjang lebar.

***

MALARI, sebuah akronim dari Malapetaka Lima Belas Januari. Momentum ketika unjuk rasa besar-besaran pada 15 Januari 1974, saat Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka berkunjung ke Indonesia dan diterima Presiden Soeharto.

Di Jakarta, Hariman Siregar menjadi tokoh penggerak demonstrasi ketika kedatangan pemimpin Negeri Matahari Terbit itu. Demonstran mengusung perjuangan antimodal asing, tema yang santer beberapa tahun belakangan. Momentum kunjungan perdana menteri lalu membuat Jakarta membara. Kobaran api mulai merebak di penjuru ibu kota. Panasnya terasa ke seluruh penjuru negeri termasuk Samarinda.

Dahlan bersama beberapa kawan sekampusnya enggan ketinggalan. Mereka ikut mengadakan aksi. Di antara beberapa teman, terdapat nama Syaiful Teteng yang kemudian menjabat sekprov Kaltim pada dekade 2000-an, dan, Syarifuddin Prawiranegara, seorang aktivis masa itu.

Dahlan dan kawan-kawan lantas berdemonstrasi kecil-kecilan. Selembar bendera hitam mereka kibarkan di Tugu Nasional yang sekarang persis di sebelah Kantor Pusat BNI 46 Samarinda di Jalan Pulau Sebatik.

Di Ibu Kota, Hariman Siregar sudah ditangkap penguasa Orde Baru. Di Samarinda, teman-teman Dahlan juga dikerangkeng. Militer di Balikpapan sudah mendaftar mereka-mereka yang berdemonstrasi pada siang 15 Januari itu. Tinggallah nama Dahlan sebagai yang terakhir dalam senarai pencarian.

“Oh, begitu rupanya. Memangnya kenapa, kok ikut-ikutan protes soal ekonomi dan politik?” tanya Alwy kepada Dahlan. Dengan berapi-api, yang ditanya menjawab. “Wah, kami ini sebagai anak muda harus menegakkan keadilan,” katanya penuh semangat, lalu melanjutkan, “Itu namanya idealis.”

Segera otak Alwy berputar lagi. “Kalau kamu begini, ya pasti ditangkap. Nah, mau tetap jadi aktivis? Mau idealis? Mau mengkritik tetapi tidak akan ditangkap? Ada caranya,” kata Alwy yang lahir di Singkang, Sulawesi Selatan, 27 Desember 1939 itu.

“Bagaimana caranya?” Dahlan yang kadung penasaran balik bertanya. Sembari mengulas senyum, Alwy menjawab, “Ikut saya. Kamu jadi wartawan.” 




GURU DAN MURID: Dahlan Iskan (kiri) dan Alwy AS.


***

ALWY adalah seorang jurnalis di Kaltim. Belum banyak pada waktu itu. Cerita panjang dia bergumul dengan dunia ini dimulai ketika mendirikan Surat Kabar Harian Mimbar Mahasiswa di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, pada pertengahan 1960-an. Di kediamannya di Jalan M Yamin, Samarinda, Alwy bercerita panjang kepada Kaltim Post, beberapa waktu lalu.

Alwy yang menghabiskan masa kecil di Samarinda, menyelesaikan kuliah ekonominya di Unlam. Di sana, dia mulai mengenal dunia jurnalistik ketika menjadi penyiar RRI Banjarmasin selama lima tahun.

Pernah suatu kali, ketika partai partai komunis menjalankan Gerakan 30 September 1965, Alwy harus mendekam di balik dinginnya jeruji. Gara-garanya, dia memberitakan seorang anggota partai komunis yang lolos dari tahanan. Sumber berita dari pihak militer dirahasiakan, membuatnya menjadi incaran penguasa.

Di pengujung Orde Lama, berita-berita demikian benar-benar sensitif. Alwy yang baru setahun menjadi sarjana muda ditangkap bersama seorang kawannya bernama Anang Adenansi (almarhum) yang juga aktivis. Keduanya ditahan di Markas Corps Polisi Militer di Banjarmasin.

Kabar penahanannya segera merebak. Banyak kerabat bersimpati. Mulai civitas Unlam sampai para taulan. Perhatian terus datang. Setiap hari, Alwy dan Anang dikirimi banyak makanan dari luar. Ada soto, nasi kuning, hingga ayam bakar. Rutin tiga kali sehari selama 40 hari. Saking banyaknya, makanan itu tak pernah bisa mereka habiskan. Sebagian diberikan kepada penjaga markas.

Ketika 40 hari berlalu, Alwy dan Anang dibebaskan. Keduanya sangat bahagia, tetapi tidak bagi para tentara yang berjaga di Markas CPM. Para penjaga itu agak bersedih karena rupanya, tidak ada lagi antar-mengantar konsumsi yang biasanya tandas di perut mereka.                                                                                                                           

***

KARIER jurnalistik Alwy terus melesat. Selepas keluar dari penjara, dia mendirikan Surat Kabar Harian Mimbar Mahasiswa di Unlam. Alwy yang menikahi seorang perempuan dari Berabai, Kalsel, bernama Suwinnah –sekarang guru besar di Universitas Mulawarman, Samarinda–, juga membentuk Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia. Ketika sedang aktif-aktifnya itulah, Alwy berkenalan dengan Abdoel Wahab Sjahranie, seorang petinggi militer di Kalsel.

Memasuki 1967, Sjahranie ditunjuk Presiden Soeharto menjadi Gubernur Kaltim. Pada masa itu, belum ada surat kabar yang senapas Orde Baru di Bumi Etam –sebutan lain Kaltim. Sebelumnya, sudah ada koran-koran yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan iklim Orde Baru. Rata-rata media cetak itu terbit mingguan di Balikpapan dan Samarinda, seperti Meranti, Wisma Berita, Pacific, BS Djaya, dan lainnya.

Gubernur Kaltim Abdoel Wahab Sjahranie pun menginginkan ada kehidupan pers yang bercita rasa Orde Baru di wilayahnya. Hingga suatu hari di pengujung 1970, Sjahranie berkata kepada Alwy, “Kenapa tidak membuat koran di kampung halaman saja?” Sebuah ajakan dari Gubernur yang segera disetujuinya.

Alwy pun pulang kampung ke Samarinda dan mulai mendirikan surat kabar. Sembari menghidupkan surat kabar, Alwy aktif berorganisasi. Dia menjadi sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kaltim. Oleh Gubernur Sjahranie, Alwy mendapat kantor untuk sekretariat KNPI di Jalan Hidayatullah –kantor itu didera musibah kebakaran, Idulfitri tahun ini.

Ketika menjadi ketua KNPI beberapa tahun berikutnya, sekretariat itu pun berfungsi ganda sebagai kantor surat kabar milik Alwy, Mimbar Masyarakat, tempat pertama kali Dahlan Iskan menggeluti profesi “penyambung lidah rakyat.” (bersambung)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar