Jumat, 22 Februari 2013

(3) Dahlan Iskan Tempo Doeloe di Samarinda: Sebuah Kerelaan

Program Magang yang Jadi Pintu Gerbang 



Setiap orang punya jalan. Setiap orang punya garis kehidupan. Tapi tak semua orang mampu membukakan jalan dan garis kehidupan itu bagi seorang lainnya, seperti yang dilakukan Alwy kepada Dahlan Iskan.



LEMBAGA Penelitian, Pendidikan, dan Penerangan Ekonomi Sosial baru saja didirikan pada 1975 di Jakarta. Sayid Alwy AS, wartawan senior dari Kaltim hadir di seremoni itu. Di sana, dia bertemu teman sesama pemimpin redaksi. Amir Daud namanya, pemred surat kabar berbahasa Inggris. 

“Wartawan di Kaltim masih betul-betul alamiah. Bagaimana caranya, ya, supaya ada peningkatan?” Alwy bertanya kepada sahabatnya. Sampai suatu saat, jawaban pun didapat. Lewat LP3ES, program pelatihan wartawan dibuka. Wartawan dari Kaltim, dikirim ke sejumlah media nasional.

Dari Mimbar Masyarakat, koran mingguan milik Alwy, sejumlah nama disebar. Masdari Achmad (almarhum) yang pernah menjadi wartawan senior di RRI Samarinda, dikirim ke surat kabar Suara Karya. Syahrani Dansul, dikirim ke Sinar Harapan, dan Ibrahimsyah ke Kompas. Sementara si reporter muda yang sudah dianggap adik oleh Alwy, Dahlan Iskan, mendapat kesempatan magang selama tiga bulan di majalah Tempo. 

Sebelum ke Ibu Kota, Dahlan mengadakan kenduri, menikahi juita pujaannya, Nafsiah Sabri, gadis dari Loa Kulu, Kutai Kartanegara.

Selama di majalah itu, dunia jurnalistik Dahlan kian menjadi-jadi. Tulisannya yang berkarakter memberi warna tersendiri sehingga mengundang lirikan petinggi majalah yang pernah diberedel pada masa Orde Baru tersebut. 

Ketika masa magangnya selesai, Dahlan, kembali ke Borneo. Sebelum pulang, dia sempat ditawari menjadi reporter Tempo. 

Sesampainya di Samarinda, Dahlan kembali menjalankan tugasnya sebagai jurutinta di Mimbar Masyarakat. Alwy, sudah mulai aktif terjun di berbagai organisasi. Dia menjadi sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia dan beberapa saat kemudian naik sebagai ketua.

Namun begitu, tugas-tugasnya sebagai pemred tetap dijalankan. Di sela-sela kerja redaksi, Dahlan menemuinya. “Saya ditawari kerja di Tempo,” ungkap Dahlan, membuka pembicaraan. Alwy lantas menanyakan, berapa dia digaji di sana. “Seratus lima puluh ribu,” balas Dahlan. Waktu itu, sedan merek Toyota Corona masih Rp 1 juta. Sedangkan gaji Dahlan di Mimbar Masyarakat adalah Rp 50 ribu sebulan.

Alwy sejenak diam. Dalam sunyinya, dia memikirkan karier Dahlan. Sorotan mata yang tajam masih sama ketika Dahlan mengadukan masalahnya dulu yang dikejar militer. Sorotan itu menggelorakan rasa yang begitu kuat.

Alwy melihat sekumpulan tekad dan ketekunan jauh di dalam tatapannya. Sejenak kemudian, ketika kata-kata telah terangkai rapi menjadi kalimat di kepalanya, Alwy berkata, “Wah bagus itu. Demi masa depanmu, tinggalkan saya. Gajimu besar di sana. Sebesar kariermu nanti.”

Hari perpisahan tiba juga. Dahlan berangkat ke Jakarta dan memulai karier di Tempo. Baru dua tahun, Dahlan sudah dikirim ke Lebanon dan menyajikan reportase perang yang memukau. Dalam hatinya, Alwy merasa begitu bangga. Dalam hatinya pula dia berkata, “Anggaplah saya ini dipakai Tuhan sebagai tangan untuk merintis kader-kader dan calon wartawan berkaliber.”

PUNYA BANYAK CERITA: Dahlan Iskan dalam peresmian PLTU Embalut, Kukar. Masih sering pulang kampung ke Kaltim.

 
***


KORAN adalah garis tangan Dahlan. Demikian pendapat Alwy ketika ditemui Kaltim Post di kediamannya, belum lama ini di Jalan M Yamin, Samarinda. Ketika bersama Erick Samola menangani Jawa Pos dan menaikkan tirasnya berkali-kali lipat, Alwy semakin yakin hal itu. 

Selain Dahlan, ada beberapa nama lain yang pernah menjadi reporter Mimbar Masyarakat. Satu di antaranya, Rizal Effendi, yang kemudian menjadi koresponden Tempo pada medio 80-an. Rizal juga menjadi pemimpin redaksi Manuntung, koran yang dirintis Alwy bersama Wali Kota Balikpapan Zaenal Ariffin. Manuntung kemudian diakuisisi Jawa Pos dan namanya berganti menjadi Kaltim Post. Kini, Rizal sudah menjadi wali kota Balikpapan. 

Jika melihat kader-kader itu, Alwy tidak pernah menyesal melepas mereka dari Mimbar Masyarakat. “Saya berani melepas karena ingin melihat anak-anak muda itu maju. Biarlah saya seperti seorang guru SD yang tetap menjadi guru walaupun muridnya sudah menjadi orang hebat,” gumam Alwy pada suatu ketika.

Pun demikian, ayah empat anak itu tidak pernah mengaku-ngaku sebagai seorang guru. Justru dia yang sering dibanggakan Dahlan. Ketika suatu hari Alwy diajak ke ruang redaksi Jawa Pos di Graha Pena, Surabaya, di depan para redaktur, reporter, dan layouter, Dahlan berkata, “Ini Pak Alwy. Guru yang membimbing saya menjadi wartawan.” 

Suasana yang bagi Alwy sungguh mengharukan. Suasana yang membuat dia terkenang memoar 37 warsa silam. Suasana yang tidak pernah bisa dilupakannya. (bersambung)

(2) Dahlan Iskan Tempo Doeloe di Samarinda: Sandal Jepit si Idealis


”Jangan Idealis Jurnalis Dicampuri Urusan Bisnis!”




Dahlan Iskan bilang, semua petinggi PLN dulunya sama seperti dirinya yang demonstran jalanan. Ketika duduk di posisi penting, idealisme itu mesti dijaga. Ini memang soal idealis dan begitulah dia sejak dahulu. Dahlan Iskan bilang, tetap memakai sepatu kets walau sudah jadi menteri. Ini soal kesederhanaan dan begitulah dia sejak dahulu. 




KANTOR media yang bangunannya tidak mirip kantor itu berwujud di Jalan Hidayatullah, Samarinda. Sayid Alwy AS adalah pengelola surat kabar mingguan bernama Mimbar Masyarakat tersebut. Dia baru saja “merekrut” wartawan muda bernama Dahlan Iskan pada 1974.

Kantor Mimbar Masyarakat juga menjadi sekretariat Komite Nasional Pemuda Indonesia. Alwy juga ketua organisasi itu. Dulunya, bangunan bercat putih ini adalah mes pemerintah. Bentuknya memanjang ke belakang dengan sederet kamar. Di halamannya yang jembar terparkir sepeda para wartawan. 

Ruangan paling depan diubah menjadi kantor. Sebuah meja tata usaha dan kasir yang mengurus keuangan di bagian paling depan. Sedikit ke dalam, meja pemimpin redaksi yang tak lain adalah Alwy, bersanding dengan meja wartawan. 


TINGGAL KENANGAN: Kantor KNPI Kaltim sudah terbakar. Pernah menjadi kantor pertama Dahlan Iskan di Mimbar Masyarakat.


Zaman itu, mencetak koran bukan perkara mudah. Huruf-huruf disusun dengan alat tempel aksara bernama letter. Sedangkan negatif foto dikirim ke Surabaya demi mendapatkan citra sempurna. Waktunya bisa berminggu-minggu. Walhasil, Mimbar Masyarakat tidak pernah menampilkan foto update. Alwy mengakalinya dengan memasang foto dokumentasi yang kira-kira berkaitan dengan berita apa yang akan diterbitkan di edisi terbaru.

Untuk mencetak koran, Alwy harus mengirim salinan halaman ke Percetakan Negara di Balikpapan. Jalan Soekarno Hatta yang sekarang menghubungkan Samarinda dan Balikpapan, belum ada waktu itu. Untuk ke Kota Minyak, harus naik kapal ke muara Sungai Mahakam lalu mendarat di kawasan Handil, Kutai (sekarang Kutai Kartanegara). Dari situ, dilanjutkan perjalanan darat sekitar 60 kilometer ke Balikpapan.

Kendati sulit mencetak surat kabar, Mimbar Masyarakat sebagai satu-satunya media cetak  yang berani mengkritik, laku keras di Samarinda. Dalam tempo singkat, mingguan dengan 10 halaman zebra alias hitam putih selebar tujuh kolom itu oplahnya mencapai tiga ribu. 

Editorial yang dibuat Alwy, menjadi sukaan Gubernur Kaltim Abdoel Wahab Sjahranie. Isinya seputar permasalahan provinsi. Dan Alwy menjadi sangat dekat dengan Gubernur yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit terbesar di Kaltim itu. Boleh dibilang, dia adalah teman berdiskusi sang pemimpin. 

Dahlan kemudian bergabung di Mimbar Masyarakat setelah dia mengeluh kepada Alwy karena dikejar-kejar militer dalam demonstrasi Malapetaka Lima Belas Januari (Malari) di Samarinda. Sudah ada dua puluh wartawan di media itu ketika Dahlan yang mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Samarinda ini bergabung pada 1974. Redaktur pelaksananya waktu itu Almarhum Syuhainie Zakaria. 

Di situ, Alwy menyampaikan dasar-dasar jurnalistik seperti kode etik, kelengkapan unsur berita, kejelasan sumber, mengolah lead, sampai keberimbangan berita kepada Dahlan. Tidak perlu waktu lama memindah-ilmu karena Dahlan memiliki naluri jurnalistik di atas rata-rata.


***


ALWY dan Dahlan datang ke Gubernuran Kaltim, beberapa bulan setelah profesi wartawan melekat pada pemuda itu. Mereka menemui Letkol Sayid Syekh, kepala Biro Sosial dan Politik Sekretariat Provinsi di sebuah ruangan di lantai dua. Sayid adalah kenalan lama Alwy.
“Tolong, Pak, kawan saya ini jangan lagi dicari-cari (militer),” kata Alwy, mengutarakan maksudnya. Dahlan yang di ruangan itu mimiknya datar. Tidak ada ekspresi sedikit pun. “Soal Malari. Dia sekarang ikut saya jadi wartawan. Kalau ada apa-apa, saya yang jadi jaminan,” lontar Alwy lagi (tentang Malari, silakan baca bagian pertama tulisan ini). 

Mendengar itu, Sayid sejenak terdiam. Sebagai teman lama, dia tahu benar siapa Alwy. Dia percaya benar sahabatnya itu. “Baik. Saya sampaikan ke atasan,” kata Sayid, mengabulkan permintaan Alwy.

Setelah bercengkerama tentang beberapa hal lainnya, kedua jurnalis itu ke luar ruangan. Alwy masih ingat benar, tidak ada yang berubah dari ekspresi Dahlan. Rautnya tetap biasa. Tapi dalam hatinya Alwy tahu, pemuda yang dianggap adiknya itu mendapatkan sebuah kelegaan. 


***


“BESOK, kita bertemu Gubernur Sjahranie,” ajak Alwy, pemimpin redaksi surat kabar mingguan Mimbar Masyarakat. Mata Dahlan, wartawan muda yang mendengar ajakan itu berbinar. 

Sebagai wartawan senior di Samarinda, Alwy kerap bertemu dengan Sjahranie. Banyak hal, terutama pembangunan di Kaltim yang mereka diskusikan. Dalam setiap perjalanan Gubernur ke pedalaman, Alwy tidak akan tidak turut serta.

Di masa Sjahranie pula sejumlah proyek besar dimulai. Sjahranie adalah penggagas Proyek Jalan Kalimantan (Projakal) mulai perbatasan Kalimantan Selatan di Paser hingga tembus Samarinda.

Gubernur itu juga menyediakan berhektare lahan bagi Universitas Mulawarman, di Gunung Kelua, Samarinda. Dia menggagas agar TVRI, stasiun televisi pemerintah yang sebelumnya berpusat di Balikpapan, bisa siaran di Samarinda. Termasuk pula, lahan rumah sakit umum yang kini memakai nama sang Gubernur, di Jalan Dr Soetomo. 

Hari itu, Alwy mengajak Dahlan berdiskusi ringan dengan Gubernur. Sampai tiba hari pertemuan yang dinanti,  sesuai janji, Dahlan menemui Alwy di kantor Mimbar Masyarakat pada suatu pagi. “Saya sudah siap, Kak,” kata Dahlan, seolah ganti mengajak Alwy supaya cepat-cepat ke Lamin Etam --kantor Gubernur, di Jalan Gajah Mada. 

“Baik. Mari kita berangkat,” jawab Alwy. Baru saja melangkah ke luar kantor, mata Alwy tertuju ke kaki reporter mudanya itu. Dia menemukan ada yang gasal. “Enggak salah, kamu? Mau ketemu Gubernur pakai sandal jepit? Ganti pakai sepatu dulu, baru kita berangkat,” sergah Alwy. Walhasil, rencana bertemu Gubernur gagal hari itu. Pertemuan pun berganti beberapa hari setelahnya. 


***


DETIK berganti menit, jam bersekutu dengan hari, dan bulan bersalin dalam tahun. Pasangan guru-murid di dunia jurnalistik itu kian rekat. Alwy begitu nyaman dengan Dahlan yang ceplas-ceplos tetapi sangat tekun dan bersemangat mencari berita. 

Pada suatu siang yang terik di Samarinda, Dahlan berkeliling kota. Sebagai reporter andalan, dia tidak ditempatkan di suatu pos. Memang pun, tidak ada pos-pos tertentu bagi wartawan di masa itu. Sebab, Samarinda tidak sebesar sekarang sehingga masih bisa mengelilinginya dengan bersepeda dalam waktu tak terlampau lama. 

Dahlan memburu berita di rumah sakit dan tidak menemukan kejadian. Beranjak ke kantor polisi dan Gubernuran, tiada hal yang layak untuk disajikan di surat kabar. Akhirnya, dia menuju kantor Mimbar Masyarakat. Otaknya mulai berpikir apa kiranya yang akan diketik. 

Tetapi jiwa jurnalis Dahlan yang waktu itu telah “pensiun” dari kuliahnya sangat kuat. Dia mendapat inspirasi. Menghadapi mesin ketik, Dahlan segera menulis sebuah berita. Judulnya kira-kira seperti ini, “Tumben, Tidak Ada Kejadian di Samarinda”. 

Di suatu malam lainnya, Alwy dan Dahlan asyik bercengkerama. Percakapan yang tidak terlampau serius sampai ketika Alwy melontarkan kalimat, “Ding, baik jika selain mencari berita, cari jugalah iklan dan pelanggan untuk koran kita.” (Ding, panggilan kepada adik dalam bahasa Banjar). 

Mendengar itu, Dahlan spontan menyanggah. Dia menolak mentah-mentah. “Ini yang saya tidak setuju. Jangan wartawan dengan idealismenya dicampuri urusan bisnis. Jangan sekali-sekali seperti itu,” timpal Dahlan, kemudian melanjutkan dengan suara yang makin meninggi, “Nanti, jika menerima sesuatu (dari narasumber), hasil wawancara tidak lagi murni!” 

Alwy tidak membalas lagi argumen itu. Dalam hatinya dia menyesal menyampaikan hal itu sekaligus bangga. Bangga karena Dahlan yang direkrut dengan keidealisannya masih seidealis kala dia dikejar-kejar militer dulu. “Oh, begitu,” jawab Alwy, singkat. Sesingkat pembicaraan yang akhirnya usai pada malam itu. (bersambung)

(1) Dahlan Iskan Tempo Doeloe di Samarinda: Anjangsana Penuh Makna


Demonstrasi Malari dan Berkenalan dengan Dunia Jurnalistik

 



Awam diketahui bahwa bekas bos besar Jawa Pos Group yang kini Menteri BUMN, Dahlan Iskan, juga seorang jurnalis. Sebuah profesi yang mulai ditekuninya ketika kuliah di Samarinda. Bagaimana cerita lampau si tokoh yang bahkan kuliahnya tak lulus itu di Kota Tepian? Kaltim Post menguliknya lewat penuturan sumber yang dahulu dekat dengan Sang Menteri.



PEMUDA yang agak ceking itu mengenakan paduan celana kain dan kaus berkerah yang menutupi sebagian kulit sawo matangnya. Tatapan mata tajam tersorot dari wajah bulatnya. Sedikit tirus, tonjolan tulang di kedua pipinya kokoh di bawah kening yang tertutup poni.

Telapak kakinya yang mengenakan sandal pelan-pelan melangkah ke seorang yang lebih tua. Sayid Alwy AS, demikian orang yang sedang didekati pemuda itu. Badan Alwy besar dan tegap. Kumisnya tebal dan kulitnya agak gelap.

Di sebuah kantor surat kabar di Samarinda pada Februari 1974, pria yang didekati itu sadar. Sejurus kemudian dia menyapa si pemuda, “Eh, Lan, apa kabar?”

Pemuda bernama Dahlan Iskan itu tak segera menjawab. Tetapi dari rautnya, ada sesuatu yang hendak disampaikan. Setelah beberapa lama dia membuka suara. “Kakak, saya dikejar-kejar militer,” katanya, berkeluh kesah. Mendengar itu, Alwy kaget. Selaksa tanya bergelimang di benak jurnalis itu.

Alwy heran, bagaimana bisa, Dahlan, mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Samarinda itu sampai berurusan dengan militer. Bagaimana bisa, pemuda di hadapannya yang sudah dia anggap adik itu tiba-tiba menjadi dicari-cari.

Tetapi pikirannya segera melayang ke masa lampau. Alwy tahu, Dahlan memang ekstrem. Kira-kira, seekstrem Nurcholis Madjid, tentang sejumlah pandangannya tentang agama. Itu dirasakan Alwy, ketika mereka pertama kali berkenalan enam bulan sebelum anjangsana ini di sebuah ruangan di samping Gedung Nasional. Sekarang, lokasi gedung itu di Jalan Jenderal Sudirman, Samarinda. Waktu itu, Alwy dan Dahlan sama-sama mengikuti sebuah diskusi agama.

Usai perkenalan itu, Alwy mulai ingat, jika Dahlan aktif di beberapa organisasi seperti Pelajar Islam Indonesia. Bukan organisasi terlarang pada masa itu. Lantas, dari mana juntrungannya sampai dikejar-kejar militer? “Kok, bisa?” Akhirnya, kalimat tanya yang dari tadi tertahan keluar juga. “Malari,” jawab Dahlan singkat. Tak lama kemudian, pemuda itu bercerita panjang lebar.

***

MALARI, sebuah akronim dari Malapetaka Lima Belas Januari. Momentum ketika unjuk rasa besar-besaran pada 15 Januari 1974, saat Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka berkunjung ke Indonesia dan diterima Presiden Soeharto.

Di Jakarta, Hariman Siregar menjadi tokoh penggerak demonstrasi ketika kedatangan pemimpin Negeri Matahari Terbit itu. Demonstran mengusung perjuangan antimodal asing, tema yang santer beberapa tahun belakangan. Momentum kunjungan perdana menteri lalu membuat Jakarta membara. Kobaran api mulai merebak di penjuru ibu kota. Panasnya terasa ke seluruh penjuru negeri termasuk Samarinda.

Dahlan bersama beberapa kawan sekampusnya enggan ketinggalan. Mereka ikut mengadakan aksi. Di antara beberapa teman, terdapat nama Syaiful Teteng yang kemudian menjabat sekprov Kaltim pada dekade 2000-an, dan, Syarifuddin Prawiranegara, seorang aktivis masa itu.

Dahlan dan kawan-kawan lantas berdemonstrasi kecil-kecilan. Selembar bendera hitam mereka kibarkan di Tugu Nasional yang sekarang persis di sebelah Kantor Pusat BNI 46 Samarinda di Jalan Pulau Sebatik.

Di Ibu Kota, Hariman Siregar sudah ditangkap penguasa Orde Baru. Di Samarinda, teman-teman Dahlan juga dikerangkeng. Militer di Balikpapan sudah mendaftar mereka-mereka yang berdemonstrasi pada siang 15 Januari itu. Tinggallah nama Dahlan sebagai yang terakhir dalam senarai pencarian.

“Oh, begitu rupanya. Memangnya kenapa, kok ikut-ikutan protes soal ekonomi dan politik?” tanya Alwy kepada Dahlan. Dengan berapi-api, yang ditanya menjawab. “Wah, kami ini sebagai anak muda harus menegakkan keadilan,” katanya penuh semangat, lalu melanjutkan, “Itu namanya idealis.”

Segera otak Alwy berputar lagi. “Kalau kamu begini, ya pasti ditangkap. Nah, mau tetap jadi aktivis? Mau idealis? Mau mengkritik tetapi tidak akan ditangkap? Ada caranya,” kata Alwy yang lahir di Singkang, Sulawesi Selatan, 27 Desember 1939 itu.

“Bagaimana caranya?” Dahlan yang kadung penasaran balik bertanya. Sembari mengulas senyum, Alwy menjawab, “Ikut saya. Kamu jadi wartawan.” 




GURU DAN MURID: Dahlan Iskan (kiri) dan Alwy AS.


***

ALWY adalah seorang jurnalis di Kaltim. Belum banyak pada waktu itu. Cerita panjang dia bergumul dengan dunia ini dimulai ketika mendirikan Surat Kabar Harian Mimbar Mahasiswa di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, pada pertengahan 1960-an. Di kediamannya di Jalan M Yamin, Samarinda, Alwy bercerita panjang kepada Kaltim Post, beberapa waktu lalu.

Alwy yang menghabiskan masa kecil di Samarinda, menyelesaikan kuliah ekonominya di Unlam. Di sana, dia mulai mengenal dunia jurnalistik ketika menjadi penyiar RRI Banjarmasin selama lima tahun.

Pernah suatu kali, ketika partai partai komunis menjalankan Gerakan 30 September 1965, Alwy harus mendekam di balik dinginnya jeruji. Gara-garanya, dia memberitakan seorang anggota partai komunis yang lolos dari tahanan. Sumber berita dari pihak militer dirahasiakan, membuatnya menjadi incaran penguasa.

Di pengujung Orde Lama, berita-berita demikian benar-benar sensitif. Alwy yang baru setahun menjadi sarjana muda ditangkap bersama seorang kawannya bernama Anang Adenansi (almarhum) yang juga aktivis. Keduanya ditahan di Markas Corps Polisi Militer di Banjarmasin.

Kabar penahanannya segera merebak. Banyak kerabat bersimpati. Mulai civitas Unlam sampai para taulan. Perhatian terus datang. Setiap hari, Alwy dan Anang dikirimi banyak makanan dari luar. Ada soto, nasi kuning, hingga ayam bakar. Rutin tiga kali sehari selama 40 hari. Saking banyaknya, makanan itu tak pernah bisa mereka habiskan. Sebagian diberikan kepada penjaga markas.

Ketika 40 hari berlalu, Alwy dan Anang dibebaskan. Keduanya sangat bahagia, tetapi tidak bagi para tentara yang berjaga di Markas CPM. Para penjaga itu agak bersedih karena rupanya, tidak ada lagi antar-mengantar konsumsi yang biasanya tandas di perut mereka.                                                                                                                           

***

KARIER jurnalistik Alwy terus melesat. Selepas keluar dari penjara, dia mendirikan Surat Kabar Harian Mimbar Mahasiswa di Unlam. Alwy yang menikahi seorang perempuan dari Berabai, Kalsel, bernama Suwinnah –sekarang guru besar di Universitas Mulawarman, Samarinda–, juga membentuk Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia. Ketika sedang aktif-aktifnya itulah, Alwy berkenalan dengan Abdoel Wahab Sjahranie, seorang petinggi militer di Kalsel.

Memasuki 1967, Sjahranie ditunjuk Presiden Soeharto menjadi Gubernur Kaltim. Pada masa itu, belum ada surat kabar yang senapas Orde Baru di Bumi Etam –sebutan lain Kaltim. Sebelumnya, sudah ada koran-koran yang masih berusaha menyesuaikan diri dengan iklim Orde Baru. Rata-rata media cetak itu terbit mingguan di Balikpapan dan Samarinda, seperti Meranti, Wisma Berita, Pacific, BS Djaya, dan lainnya.

Gubernur Kaltim Abdoel Wahab Sjahranie pun menginginkan ada kehidupan pers yang bercita rasa Orde Baru di wilayahnya. Hingga suatu hari di pengujung 1970, Sjahranie berkata kepada Alwy, “Kenapa tidak membuat koran di kampung halaman saja?” Sebuah ajakan dari Gubernur yang segera disetujuinya.

Alwy pun pulang kampung ke Samarinda dan mulai mendirikan surat kabar. Sembari menghidupkan surat kabar, Alwy aktif berorganisasi. Dia menjadi sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kaltim. Oleh Gubernur Sjahranie, Alwy mendapat kantor untuk sekretariat KNPI di Jalan Hidayatullah –kantor itu didera musibah kebakaran, Idulfitri tahun ini.

Ketika menjadi ketua KNPI beberapa tahun berikutnya, sekretariat itu pun berfungsi ganda sebagai kantor surat kabar milik Alwy, Mimbar Masyarakat, tempat pertama kali Dahlan Iskan menggeluti profesi “penyambung lidah rakyat.” (bersambung)